Wanita yang baik

Impian terbesar seorang wanita adalah menikah dengan dia yang mau menyempurnakan hidupnya dengan landasan iman dan takwa. Yang mau menggenggam erat tangannya, dan senantiasa hidup bersama dengan penuh kasih sayang di setiap langkah yang dilaluinya.

Begitu pula dengan lelaki, impian terbesar mereka adalah memiliki wanita yang Sholehah yang mampu membawa dirinya ke jalan sakinah mawadah wa Rohmah. Yang dapat mendidik anaknya ke jalan yang benar dan dapat menjadi anak yang berakhlak mulia juga berprestasi kelak.

Sah-sah saja semua orang memiliki kemauannya masing-masing. Namun, untuk mencapai apa yang diimpikannya pun kita harus memikirkannya dengan matang-matang. Maksudnya  kita harus melalui proses yang benar yang telah dicontohkan oleh Rasulullah melalui istrinya dan sosok perempuan lain yang telah Alloh tulis di dalam kitabNya.

Yaitu perempuan yang Sholehah, dia yang selalu beriman dan bertaqwa kepada Allah. Baik akhlaknya, Tutur katanya, pendidikannya, dan semua kepribadian yang dapat menunjang kualitas hidupnya.

Dengan memiliki kriteria tersebut mereka sudah dapat mempersiapkan dirinya untuk dapat mengasuh anak dengan baik. Karena wanita adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Dan pada saat usia satu sampai lima tahun merupakan waktu emas yang mana penyerapan otak anak saat itu sedang berkembang pesat. Maka dari itu didiklah diri kita sendiri sebelum kita mendidik orang lain, apalagi itu adalah anak kita sendiri. Karena anak adalah anugerah terindah dari Tuhan yang harus kita jaga.

Pengalamanku mengenai hal ini memang masih sangat dangkal, namun dari hasil pengamatanku terhadap situasi ini adalah bahwa kita selaku wanita harus bisa pintar segala macam hal. Harus bisa menjaga segala hal. Harus memiliki jiwa yang penuh kasih dan sayang yang mana bisa membawa pelabuhan rumah tangga nya ini sakinah mawadah warahmah. Alangkah bahagianya mungkin jika hal ini dapat terwujud dalam keluargaku nanti. Mungkin semesta akan iri terhadap keluargaku. Seandainya aku telah berumah tangga nanti, aku ingin mencurahkan segalanya padamu, keluargaku.

Yakin

IMG_20170312_103824_552

Percayalah, Alloh akan selalu memberikan jalan keluar kepada setiap orang yang berusaha semaksimal mungkin, tidak selalu dengan yang diharapkan, bisa jadi dengan sesuatu yang lain yang lebih baik dari yang kita harapkan. Jangan lupa Doa, Usaha, Ikhtiar, Tawakal. 😊😊

Ini adalah kalimat yang sering saya terapkan kepada diri saya sendiri untuk memacu semangat saya agar tidak hilang. Entah sudah berapa kali saya mengikuti event-event yang saat itu mereka tawarkan kepada semua orang untuk dapat diikuti oleh banyak orang dan ketika itu saya selalu mengikutinya dan selalu berharap saya mendapatkan kesempatan emas tersebut.

Saya pernah mengikuti pelatihan wirausaha, saat itu saya hampir memiliki harapan selangkah lagi untuk dapat lolos seleksi, hanya saja mungkin Dia masih belum mengizinkan saya untuk lolos. Dan begitulah seterusnya, tiap kali ada event yang ingin sekali saya ikuti rata-rata banyak yang gagal ditengah jalan. Namun saat saya introspeksi diri, mungkin kesempatan itu tidak akan baik saya terima saat itu juga, mungkin Dia sedang mempersiapkan kesempatan yang lain bahkan lebih indah dari kesempatan itu.

Akan tetapi saya tidak pernah ingin patah semangat. Apalagi dalam berharap dan berusaha saya selalu memastikan bahwa saya pasti bisa mendapatkan sesuatu yang ingin saya lakukan. Dan Alhamdulillah berkat doa yang kuat dan ikhtiar yang tak pernah padam Alloh selalu mengabulkan apa-apa yang hambaNya inginkan. Dan saya semakin percaya bahwa Alloh itu Maha Kuasa atas segala sesuatu. Jadi jangan ragu tuk meminta padaNya. Karena Dia lebih suka kita selalu meminta kepadaNya, dia selalu rindu kepada umatNya yang mengadu kepadaNya baik itu tentang kesusahannya, maupun tentang kesenangannya. Percayalah, hanya Dia yang mengerti hambaNya. Percayalah, bahwa doa merupakan cara terbaik dalam segala hal setelah usaha dilakukan.

Raih ridho Nya

IMG_20170311_233511_777

Foto ini diambil ketika diri ini berniat untuk berhijrah.

Disaat semua orang tengah dilema akan usia yang mengharuskan diri untuk digenapi, saya merasa baiknya diri ini untuk diperbaiki. Karena jika waktunya telah tiba, semua akan genap pada waktunya. Tak usahlah risau kepada orang-orang yang kini tengah berdua dengan rancangan masa depan yang sama saja absurd seperti yang tak berpasangan. Bedanya, mereka berdua bersama makhluk sementara kita berdua sama Sang Pencipta. Sempat saya juga galau memikirkan hal ini, tapi inilah kenyataan hidup yang harus kita sederhanakan, sesulit apapun itu masalah. Di usia yang tak lagi muda ini semua orang hanya selalu menuntut haknya kepada Dia, untuk digenapi. Sementara perintaNya mereka lupa. Saya berkaca pada diri yang tidak sepenuhnya sempurna di masa lalu bahwa seharusnya orientasi hidup adalah dariNya, kepadaNya dan hanya untukNya. Dan pantas saja kini kita sering merasa dilema yang berkepanjangan karena toh kita tidak pernah mau mempelajari ilmuNya, nasihatNya, dan lain sebagainya yang berkaitan terhadap jalanNya. Ini adalah perkara sulit, jalan yang sulit karena harus memerangi hawa nafsu diri yang tak berkesudahan. Karena sejatinya musuh abadi kita akan terus menggoda sampai kita berada pada titik terakhir dari kehidupan ini, hembusan terakhir yang menentukan kita akan menempuh jalan yang seperti apa selanjutnya. Dan, rasanya lebih baik kita terus tingkatkan kapasitas diri supaya semua harapan kita, keluarga, guru, sanak saudara bahkan masyarakat luas yang pastinya sedang menunggu sang pencerah umat supaya lebih fokus pada kebermanfaatan diri dan semua. #hijrah

Arti kehidupan

IMG_20170311_091112_816

Novel ini menceritakan dunia arsitektur yang bernuansa islami. Yang sebelumnya tidak pernah terbersit sedikit pun dalam benak saya bagaimana cara merancang sebuah bangunan kokoh yang tidak hanya sekedar bagus, namun memiliki nilai tersendiri dari estetika dan ruh Ilahiahnya. Bukan hanya sekedar itu, dalam novel ini juga digambarkan bagaimana tentang indahnya konsep-konsep Islam tentang ta’aruf, sampai selanjutnya ke tahap pernikahan dan berumah tangga. Membahas semua permasalahan yang ada di dalam rumah tangga beserta pemecahan masalah nya itu sendiri. Dan saya sadari ternyata diri ini masih didapati banyak kekurangan terlebih dalam bidang pengetahuan, baik dari segi akademisi apalagi dalam praktisi. Ya, menjadi ibu dalam sebuah keluarga merupakan pekerjaan yang sangat mulia, terlebih jika menjadi ibu rumah tangga plus wanita karier. Ini adalah hal yang sangat mengagumkan. Harus bisa menyelaraskan segala hal supaya pekerjaan di rumah dan di kantor dapat terealisasi dengan sempurna. Ya Alloh, jadikan penantian ku ini ada dalam ridhoMu. Sulit memang membayangkan hidup ini sendiri kali ini. Namun aku percaya, pasti akan ada masanya untuk aku menggenapi hidupku bersama seseorang yang terbaik bagiku. Bagi agamaku. Berilah aku banyak ilmu pemahaman yang sangat baik demi melanjutkan kehidupanku untuk saat itu sampai akhir hayat ku. Ini memang tidaklah mudah, namun aku percaya denganMu aku pasti dapat melewati segalanya.

Rindu

Entah mengapa rasanya kini aku begitu merindukan waktu itu. Waktu dimana aku bisa bercerita bersamanya dengan bebas, dengan penuh cinta dan kasih sayang. Namun kini semuanya sudah tidak bisa kami lakukan lagi karena kesalahanku.

 

Kesempatan mengenalmu adalah sebuah anugerah terindah yang pernah ku miliki. Entah harus menggunakan cara apalagi supaya aku dapat dengan ikhlas melepasmu. Semua bayang-bayang tentangmu, tentang cerita kita di masa itu sungguh aku tak bisa melupakannya secepat itu. Waktu hampir menginjak 2 tahun terakhir ini tanpamu ku rasakan hampa. Meskipun yang dapat kamu lihat aku terlihat baik-baik saja bersama yang lain. Namun di relung hati yang sangat dalam aku menyimpan kesendirian yang teramat dalam tanpamu. Tak jarang aku sering membuntutimu dari kejauhan. Melihat status dia yang menggambarkan kebahagiaan diantara kalian. Terkadang aku bersyukur karena kamu telah menemukan seseorang yang lebih baik dari aku untuk melanjutkan hidupmu. Tapi disisi lain aku menangis. Karena bukan dengan aku cerita itu berlanjut. Berjalan dengan jelas di depan mataku yang masih mencintaimu.

 

Ya, inilah salahku. Inilah ulahku yang selalu memaksakan segala kehendak ku secara sepihak. Tanpa mau didiskusikan terlebih dahulu. Aku egois, bahkan sangat detik itu. Aku tidak bisa berpikir panjang dan kini hanya bisa meratapi kenangan bersama puluhan tempat, barang, bahkan kenangan dalam tulisan dan ingatan yang tak pernah pudar. Dan tak jarang air mata membanjiri pelupuk mataku. Di keheningan waktu kapan pun itu, saat aku teringat kamu aku hanya bisa menangis menahan rindu yang tak dapat terbalas lagi seperti dulu. Saat kita masih bersama, mungkin tangis ini terdengar sangat membahagiakan. Rindu ini terasa mendekatkan. Akan tetapi saat kini yang terasa hanyalah sayatan-sayatan penyesalan yang tak berkesudahan.

 

Selang beberapa lama kini ku dengar kabarmu sudah tak menjalin hubungan dengannya lagi. Bahkan dengan perempuan lain pun tidak. Ada perasaan lega karena aku merasa memiliki kesempatan lagi untuk mendapatkan hatimu. Lalu saat ini kuputuskan untuk menunggu saja. Menunggu bersama doa-doa yang slalu kupanjatkan kepadaNya. Aku tau kesempatan ini akan sangat sedikit sekali. Tapi aku tidak ingin menyerah sampai disini saja. Mungkin jika ini memungkinkan ini adalah salah satu bentuk penebusan kesalahanku di masa itu. Walaupun aku tau hal ini tidak dapat menyembuhkan lukamu seutuhnya atas kekecewaanmu terhadapku. Mohon maafkan aku yang tak dapat mengerti kalau itu. Aku hanya selalu membenarkan opiniku tanpa mengindahkan pendapatmu. Dan kini harus kuterima bahwa aku harus merindu tanpa terbalas. Bahwa aku harus memendam tanpa kau sadari. Bahwa aku harus mencintai tanpa memiliki. Aku harus bisa menjalani ini semua karena aku yakin suatu saat nanti Dia akan berikan jawaban, hanya saja aku harus sabar kali ini. Apabila jawabannya kamu, aku sangat bersyukur. Akan tetapi jika jawabannya bukan kamu, aku hanya bisa menerima dengan penuh syukur juga. Semoga apa-apa yang telah digariskan oleh Nya itu adalah yang terbaik. Aku hanya bisa meminta saja ketetapan dari Nya.

Bersyukur

Apa yang kita pikirkan tentang sembilan kata ini dalam benak kita? Rata-rata kita melakukan hal ini saat kita sedang mendapatkan sebuah nikmat yang selalu kita dambakan sebelumnya. Atau bisa jadi kita mendapatkan suatu kenikmatan yang sudah kita perjuangkan sebelumnya lalu kita pun bersyukur atas apa yang telah kita raih saat itu.

Kalau kejadiannya seperti itu mungkin kita akan sangat mudah untuk melakukannya, bagaimana tidak ibaratnya kita diberi sesuatu oleh orang yang selalu baik terhadap kita, lalu kita pun pasti akan membalas kebaikannya secara mudah mengingat apa yang sudah mereka lakukan terhadap kita itu sangat membantu kita.

Akan tetapi bagi Alloh, bersyukur itu bukan hanya saat kamu mendapatkan hal-hal yang baik saja, namun Alloh juga ingin kita selalu mensyukuri nikmat berupa hal-hal yang bisa jadi menyakitkan saat kita mendapatkannya, tetapi kita dituntut untuk selalu bersyukur.

Cerita ini bukan orang lain yang mengalaminya, tetapi saya sendiri. Kejadian itu terjadi ketika H-1 pernikahan kakak saya. Saya disuruh oleh kakak saya untuk mengurusi pernikahannya yang sebentar lagi akan dilaksanakan. Saat itu mengharuskan kami (saya dan Paman saya yang akan mengantar saya ke sebuah tempat dikarenakan saya tidak bisa mengendarai motor) pergi sambil mengendarai motor.

Beberapa menit setelah kami berlalu dari rumah kami merasakan ada hal yang ganjil terhadap motor yang kami tumpangi. Pamanku berkata sepertinya motor ini sudah harus diservice karena ada yang macet. Entah bagian mananya saya kurang peduli karena saya tidak mengerti tentang motor. Setelah beliau berhenti berbicara, beliau menambah kecepatan dari motor tersebut lalu kemudian dipelankan lagi dan tiba-tiba saja rem motor kami macet dan terjatuh tanpa aba-aba.

Rasanya saat itu saya sangat takut sekali, bukan karena saya terjatuh, tapi saya membayangkan bagaimana jika yang terjatuh ini bukan saya, tapi kakak saya. Selepas kejadian itu saya terus berdoa semoga bisa diselamatkan dan juga diberi kelancaran dalam acara ini. Mengingat Mama saya terlihat gusar karena untuk pertama kalinya Mama menikahkan seorang anak dan mungkin karena belum adanya pengalaman jadinya membuat banyak kekhawatiran dalam pikirannya.

Kejadian kedua saat saya beserta beberapa keluarga saya akan berangkat ke rumah nenek saya, karena kami akan menghadiri acara pernikahan saudara saya. Saat itu, sore hari kami melakukan perjalanan dibawah guyuran hujan yang membanjiri atap rumah kami.

Awalnya saya sudah memutuskan untuk tidak mau berangkat dikarenakan malas harus melakukan perjalanan jauh bersama adik saya yang pastinya saya harus siap untuk mengurusnya. Akan tetapi sore itu uwa saya datang dan mengajak saya kembali untuk ikut kesana. Alhasil saya pun ikut kesana.

Kami berdua pun pamit kepada kedua orang tua. Setelah itu saya dibonceng oleh Paman saya dan adik saya dibonceng oleh uwa saya. Saat itu ada perasaan cemas menyelimuti dikarenakan uwa saya masih kurang lihai karena beliau baru bisa mengendarai motor.

Saat kami hendak menyeberangi rel kereta api yang tidak berpalang pintu di dekat rumah saya, uwa saya tidak melirik ke kanan dan ke kiri terlebih dahulu, sementara kereta sudah dekat akan melewati arah kami. Saat itu yang terjadi kami hanya bisa menjerit karena takut sekali uwa dan adik saya terlindas kereta. Namun kalau bukan karena pertolongan Alloh mungkin semua ini tidaklah bisa terjadi. Saya sangat syok kala itu. Namun saya harus melanjutkan perjalanan ini.

Kejadian yang ketiga ini terjadi sepulang saya dari sahabat saya. Mungkin akibat dari kecapean dan saya kurang menjaga diri, akhirnya saya jatuh sakit. Perut saya sangat melilit sekali dan ingin muntah. Lalu pada malam itu ketika saya sedang sakit, saya merasa saat itu juga akan dicabut nyawa olehNya. Saat itu saya banyak berdoa semoga bisa Khusnul khatimah mengingat mati itu adalah langkah awal kita menuju tempat keabadian. Saya sangat takut bila saya harus masuk neraka, mengingat saya banyak sekali melakukan kesalahan.

Dari beberapa peristiwa ini saya sadar, entah berapa kali rasanya maut hendak datang menjemput ku, dan entah berapa kali juga Alloh memberikan kesempatan hidup bagi saya. Kini saya mengerti mengapa bersyukur itu amat diperlukan.

Tentang sabar

IMG_20161230_052505.jpg

Kala itu aku sering sekali bilang kepada sahabatku bahwa aku ingin sekali pergi ke Bandung, tempat sahabatku berada. Hal ini sudah kuutarakan sekitar beberapa bulan ke belakang mengingat dulu saya mengikuti salah satu pelatihan kewirausahaan yang diadakan oleh DISKOPERINDAG namun saya tidak pernah dipanggil untuk mengikuti pelatihan ini. Ya dengan kata lain saya tidak lolos.

Saat itu, rekan-rekan saya yang mengikuti pelatihan itu semuanya mendapat panggilan dari pusat, kecuali saya sendiri. Saat hal itu terjadi sebenarnya saya sedikit agak kecewa karena harapan yang saya buat sendiri. Pada saat itu saya hanya bisa membunyikan diri saya dengan membuat produk usaha sendiri, obat dari kegalauan penolakan ini.

Yang membuat saya sedikit kecewa itu karena saya sudah berjuang habis-habisan untuk mendapatkan kesempatan ini namun alhasil saya tidak lolos, dan juga janji yang sudah diberikan dari pihak pengelola tersebut membuat deretan sakit hati saya semakin berkelanjutan.

Setelah hal itu terjadi saya tidak menyerah begitu saja. Mungkin kesempatannya belum sekarang bisa pergi ke Bandung ini. Mungkin tahun depan pun akan ada peluang lagi. Saya pun semangat lagi untuk bisa diberi kesempatan mengikuti pelatihan tersebut.

Alhasil setelah bulan-bulan yang membuat saya cukup sedikit membuat kecewa pun berlalu, yang terjadi banyak yang menawari saya bahkan teman-teman saya juga insya Alloh akan mendapatkan kesempatan mengikuti kegiatan tersebut. Betapa bahagianya hati ini bisa diberi peluang kembali.

Untuk saat ini saya hanya bisa menunggu terlebih dahulu untuk merealisasikan mimpi tersebut. Dan juga tidak boleh merasa puas karena bisa jadi kejadian yang kemarin itu bisa terulang kembali.

Namun sepertinya Alloh selalu mempunyai cara dan jalan lain untuk mengabulkan doa hambaNya. Malam itu saya bergurau kepada sahabat saya untuk menonton film yang sudah dia garap sebagai salah satu tugasnya di kampus. Saat itu dia memposting film nya di IG. Dan saya berkomentar bahwa saya akan menonton film tersebut di Bandung.

Pada saat saya mengatakan hal tersebut sebenarnya saya tidak ada pikiran sama sekali akan pergi ke Bandung dekat-dekat ini. Yang saya akan lakukan justru pergi ke Cikarang – Karawang karena ada saudara yang menikah. Dan saat saya sedang berada di pernikahan saudara saya itu, entah bagaimana saya tiba-tiba ingin pergi ke Bandung. Setelah izin dari Mama, dan Mama mengizinkan, saya sangat bahagia bisa pergi ke tempat itu lagi.

Seperti syair “bukalah satu pintu, maka akan terbuka pintu-pintu yang lain”. Saat ini saya tidak hanya bertemu dengan sahabat yang akan saya tuju, tetapi saya pun bertemu dengan sahabat-sahabat saya yang lain. Dan, apakah kalian bisa membayangkan betapa bahagianya hati ini? Saya rasa sangat bahagia sekali.

Dan malam itu awalnya kami ingin bertemu dengan sahabat kami yang lain, namun ternyata sudah cukup larut untuk menunggu dan kami pun belum makan jadi kami putuskan untuk pamit undur diri dari sahabat kami tersebut.

Setelah itu kami pun mencari makanan yang hendak kami makan, namun ternyata banyak toko-toko yang sudah tutup karena waktunya sudah cukup malam. Saat kami sedang mencari-cari tempat makan, kami awalnya akan makan steak di salah satu restoran yang namanya lupa lagi, dan ternyata disana pun sudah tutup. Akan tetapi ada seorang satpam yang memberikan rekomendasi tempat makanan yang pada akhirnya mengharuskan kami makan di sana. Ya, di kaki lima, makanan Jepang. Dan betapa bahagianya kami karena ini pengalaman pertama kami bisa merasakan sensasi makanan Jepang yang hanya bisa kami lihat di drama-drama Korea saja. Hehe. Dan ternyata memang benar. Apabila kita sabar atas segala sesuatu kita juga akan menuai kesabaran tersebut dengan buah yang sangat manis. Dan jangan lupa bersyukur.

 

Terima kasih untuk sahabatku, silfia karima yang telah mengajakku keliling Bandung.

Menunggu

photogrid_1480313811728

Menunggu,
Menunggu sesuatu yang tak pasti?
Tidak, bagiku. Karena aku percaya bahwa dia pun sedang menunggu waktu yang tepat untuk menyatakan.
Dia?
Siapa?
Entahlah. Yang pasti Tuhan sedang menyimpannya untukku. Tuhan mau aku bersabar. Tuhan mau aku berjuang. Tuhan mau aku lebih dekat dulu denganNya. Tuhan mau aku berprestasi dulu. Memperbaiki diri. Meningkatkan segalanya.
Sesederhana itu yang aku artikan dengan menunggumu.
Sulit?
Ya. Sangat. Namun aku harus bisa menikmati proses ini dengan sabar, seperti menanam biji. Ku tanam biji itu dibawah tanah. Apabila prosesnya benar dengan disirami air dan unsur lainnya benar, maka biji tersebut akan tumbuh menjadi tanaman yang kokoh. Menghasilkan daun, bunga bahkan buah yang mengagumkan. Akan tetapi apabila biji itu tidaklah tumbuh, maka dapat dipastikan dia membusuk di dalam tanah. Biji itu kuartikan dengan menunggu, air itu kuartikan dengan doa dan waktu kuartikan dengan kesabaran. Aku ingin menunggumu sesabar biji itu. Percayalah.

Mengambang

Banyak tanda tanya saat detik itu

Mengapa bisa semudah itu…?

Itulah yang terpikir di dalam benakku

Aku hendak mendaki

Memperbaiki atap yang bocor terkena hujan

Namun tampaknya hujan terlalu deras

Dan ku urungkan niat tuk perbaiki atap itu

Hujan pun menghilang tanpa sadar saat ku terbangun dari lelahku

Hanya meninggalkan genangan yang sangat banyak

Dapatkah kau bayangkan betapa perih hatiku

Harus membereskan genangan hujan seorang diri

Datanglah angin panas

Yang berhembus menikam hatiku

Mengingatkanku pada selembar kenangan masa itu

Saat aku hanya sebagai pengantar mu di pembatas jalan

Dapatkah aku maju tuk melaju

Rasa pahit terlanjur menyambar hatiku

Kini, tak kutemukan dering suara di ujung sana

Mengabarkan cerita biasa yang tenangkan jiwa

Yang slalu ada hanya aku yang menerka

Dari sebuah penunjuk waktu pembuka arah

Menggigil seluruh tubuhku

Kebasahan terkena genangan itu

Tak bisa ku petakan rasa sakit yang menikam hati

Saat ku lihat selembar kisah terdapat pada tangan nya

Aku tertegun

Menahan amarah tak bisa, lalu ku luapkan dalam api unggun menyala

Tak terkira perihnya

Tak terbilang sakitnya

Ini karna tak ada tanya dan penyelesaian diantara kita

Seakan semua selesai, padahal masih tak beres

Kamu dengan anggapan mu

Aku dengan anggapan ku

Hanya Tuhan yang tahu mana yang terbaik

Maka kurelakan saja kisah ini mengambang.

 

Successful n unsuccessful

img_11622323440024

انما المؤ منون اخوة فاصلحوا بين اخويكم ( الحجرات :١٠)

Kamar-kamar (Al-Ĥujurāt):10 – Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.

saat ini saya tengah memasuki perkuliahan tingkat 3 dan mau tidak mau saya harus lebih baik dari sebelumnya. Maka dari itu saya targetkan diri saya untuk memiliki sebuah usaha dan pengalaman yang banyak untuk meraih cita-cita saya melanjutkan perkuliahan selanjutnya dengan beasiswa di luar negeri. Ini adalah sebuah impian yang masih menjadi angan-angan dalam benak saya, dan saya rasa saya harus berani berpetualang menambah pengalaman jika ingin berkeliling dunia.
Saat pertama kali saya membuka usaha ini saya dihadapkan dengan berbagai problematika yang membuat diri saya sendiri down dan kehilangan arah. Seolah banyak sekali yang meragukan mimpiku untuk dapat diwujudkan namun entah mengapa Tuhan seakan selalu dekat dengan saya untuk memberi semangat yang besar untuk bertahan di dalam menjalani rintangan yang saya tempuh.
Dan kini saya menemukan sebuah arti dalam sebuah persaingan bahwa orang-orang yang paham itu ketika dia sukses dia tidak akan menjatuhkan temannya sendiri untuk mengalahkan pesaingnya, melainkan dia akan saling membantu satu sama lainnya. Dan sebaliknya orang yang kurang paham pada saat dia sukses dia malah ingin menjatuhkan temannya sendiri supaya hanya dirinyalah yang paling baik di matanya. Dan menurut pandangan saya bahwa masyarakat kita ini masih kurang sekali sikap toleransinya. Jangankan terhadap orang-orang non muslim, bahkan terhadap sesama saudaranya sendiri pun mereka masih semena-mena bersikap yang tidak mengenakkan hati. Seolah dia tidak butuh lagi orang yang dia sakiti itu.

Cintaku, maafkanlah

B612_20160721_095618.jpg

Saat ku tersadar, ternyata kini ku telah melangkah sangat jauh dari sebelumnya. Aku memiliki rencana yang ku panjatkan kepada Tuhan, hanya Dia yang tahu isi hati ini. Rasanya kini aku bagaikan tengah terbang ke awang-awang bersama burung-burung yang berserakan di hamparan langit yang tak terhalang apapun. Siapalah yang dapat menyangka takdir Tuhan yang indah ini terjadi kepadaku? Hanya kepercayaan saja yang dapat membenarkan semua yang terjadi ini.
Tuhan begitu baik padahal aku hanyalah manusia yang penuh dengan kesalahan, lupa, bahkan hina. Entah apa yang Dia kehendaki ini terjadi padaku. Apakah ini sebuah hadiah dariMu? Namun apa yang sudah kulakukan sehingga Engkau memberiku lebih padahal aku tak pernah taat terhadapMu? Ingin ku menangis haru menyaksikan keagunganMu. Slalu ku rindukan kasihmu yang slalu terasa dalam hariku ini.
Namun terkadang aku pun merasa takut. Mungkin suatu saat nanti akan ada balasannya untukku atas kekhilafan ku di masa lalu. Mungkin ini masih tertunda, atau Engkau sudah memaafkan ku sepenuhnya. Aku hanya dapat menerka-nerka bersama tangisan pilu. Kemana saja aku selama ini sampai ku mengabaikan Kalam Ilahi? Ya, aku harus berlapang dada kini. Menerima konsekuensinya yang tlah ku perbuat selama ini.
Jika Engkau takdirkan waktu tuk lebih lama menyertaiku, izinkan aku memperbaiki segalanya. Demi diriMu yang slalu mengalir dalam darahku sepanjang hayat, ku panjatkan dalam sajadah panjang dan untaian doa di setiap sujudku. Berharap pengampunan, berharap belas kasihan yang lebih untukku.Untukmu yang slalu kucintai, Tuhanku yang Esa.